Saya Kiai Tapi Bukan Kiaimu
Kemarin saya menonton video seorang dokter di Amerika yang menjelaskan tentang proses penuaan. Namun, sebelum masuk ke materi, ia mengatakan: “Saya seorang dokter, tapi saya bukan doktermu. Untuk urusan kesehatanmu, konsultasi ke doktermu.” Pernyataan ini terdengar sederhana, namun menarik: si dokter membatasi perannya, mengakui adanya konteks individual, serta menghormati hak setiap orang atas keputusan yang menyangkut dirinya. Ini ya etis banget! Saya pikir-pikir, mengapa sikap seperti ini jarang kita temui dalam dunia keulamaan atau dakwah? Seringkali, seorang kiai atau penceramah agama merasa berhak memberi fatwa umum, berlaku mutlak, tanpa mengenali konteks orang per orang jamaahnya. Padahal, dalam tradisi Islam, kita mengenal prinsip bahwa hukum agama tidak tunggal dan mutlak dalam aplikasinya. Dalam ushul fiqh, dikenal kaidah al-ḥukm yadūru ma‘a ‘illatihi wujūdan wa ‘adaman — bahwa hukum itu bergantung pada illat-nya, pada konteks yang menyertainy...